7 Cara Bisnis Arli Kurnia dari Buku Profit Maker

cara bisnis arli kurnia
Arli Kurnia adalah salah satu mentor bisnis yang saya suka. Meskipun saya baru melihat di channel youtube dan membaca buku beliau "Profit Maker" banyak sekali ilmu berharga yang dapat saya peroleh untuk usaha, bisnis dan keuangan. 

Artikel ini saya tulis untuk saya sendiri sebagai pengingat secara mudah jika suatu saat lupa dan butuh panduan lagi untuk menjalankan bisnis. Juga untuk para pembaca yang ingin tahu secara singkat bagaimana sih cara bisnis mas Arli Kurnia dari isi buku Profit Maker. 

Sebelumnya saya sudah ulas secara ringkas di artikel "review buku Profit Maker" lebih dari setahun lalu saya tulis, dan sekarang lumayan agak lupa isinya, makanya saya ringkas poin-poin pentingnya disini.

Saya merasa sangat cocok dengan seorang Arli Kurnia dari berbagai sisi, mulai dari cara berbisnis yang simple, menghindari hutang, dan soal investasi emas. Beliau bukan sekedar pembicara tapi insyaAllah juga banyak nilai dakwah soal rezeki dan keuangan.

1. Mulai dari pasar bukan dari produk

Kebanyakan orang dalam berbisnis akan membuat produk dulu kemudian baru memasarkannya. Berawal dari anggapan bahwa produk ini pasti laku, produk ini pasti unik, berkualitas dan lain sebagainya.

Cara seperti ini sama saja menebak-nebak, terlalu berspekulasi dalam memulai bisnis. 

Maksudnya mulai dari pasar adalah memulai dengan apa yang dibutuhkan orang-orang. Mendatangi dan mencari tahu di lokasi ramai apa kira-kira yang dibutuhkan mereka.

Lokasi ramai jaman sekarang bukan sekedar pasar fisik, tetapi semuanya yaitu termasuk marketplace dan sosial media.

Sebagai contoh:
Saat ini bahan bakar naik harganya, orang-orang mengeluhkan soal kenaikan harga bbm, tetapi tetap harus terus menggunakan kendaraan demi untuk bekerja

Maka mas Arli kurnia mencari tahu solusi dengan membuat produk penghemat BBM.

Mencari tahu kondisi pasar apa yang sedang dibutuhkan ini memang membutuhkan waktu dan kesabaran.

2. Mulai dengan modal yang ada

Minimal kita punya modal fisik jika tidak ada uang. Biasanya orang selalu saja bingung memikirkan harus dengan modal besar.

Setelah mencari tahu apa yang dibutuhkan pasar, selanjutnya melihat berapa modal yang bisa digunakan. Harus sesuai dengan jumlah modal tersebut, jangan mengambil usaha yang membutuhkan modal tidak sesuai.

Memulai bisnis kecil sesuai dengan modal yang ada, jauh lebih baik daripada dengan modal hutang.

3. Hindari hutang

Berbisnis yang dimulai dengan hutang akan menjadikan tekanan hidup, karena setiap bulan pikiran akan terbebani hutang sehingga pikiran tidak bisa kreatif.

Berbeda dengan bisnis yang dimulai dari kecil, dengan modal seadanya tanpa berhutang, maka setidaknya tidak ada beban pikiran untuk membayar cicilan.

Menjalankan usaha bisa lebih tenang tanpa tekanan sehingga bisa kreatif bagaimana cara mengembangkan usaha menjadi lebih besar.

4. Cash and Carry

Artinya da uang ada barang, uang dibayarkan kemudian baru barangnya diberikan ini cara agar usaha kecil bisa terus berjalan.

Kesalahan pengusaha kecil adalah praktek pembeli memesan barang terlebih dahulu bayarnya di belakang, ini akan membuat usaha kelas UKM kesulitan produksi.

Makanya mas Arli menyarankan untuk membayar terlebih dulu baru produksi, minimal ada uang DP masuk.

5. Membuat bisnis yang marginnya tebal

Margin yang dimaksud adalah persentase keuntungan bisa 50% bahkan 200%. Dengan cara ini akan lebih mudah lagi memperbesar usaha.

Misalnya pedagang kopi sachet harganya 1500 rupiah, lebih baik dijual dalam bentuk kopi di gelas yang sudah diseduh maka harga satu gelas kopi menjadi 4000 rupiah.

Rp 1500 menjadi 4000 marginnya sama dengan sudah lebih dari 100% 

Dengan mencari produk yang marginnya tebal maka akan lebih leluasa dalam membesarkan usaha kedepannya.

6. Hindari produk komoditas

Produk komoditas adalah barang yang dibutuhkan semua orang, cepat laku tetapi jumlah keuntungannya mepet atau sedikit. Selain itu produk komoditas juga sangat mudah ditemukan di sekitar kita.

Produk komoditas sulit untuk menjangkau pasar online yang lebih luas.

Contoh-contoh produk komoditas itu misalnya adalah telur, beras, gula, minyak, cabe dan lain sebagainya.

Lebih baik diolah menjadi sesuatu yang lebih mahal harganya. Misalnya telur dijual dalam bentuk telur gulung atau martabak, beras dijual dalam bentuk nasi goreng.

7. Jangan melihat kompetitor

Jika ada banyak yang menyarankan ATM (amati, tiru, modifikasi) mas Arli justru menyarankan jangan menerapkan seperti itu. Sebaiknya bisa berinovasi jauh lebih baik lagi melihat apa yang dibutuhkan masyarakat.

Termasuk juga jangan sibuk memikirkan banyak kompetitor, cukup dijadikan spion kita tetap usaha dengan inovasi yang lebih baik lagi.

Aldofla

Seorang manusia yang ingin bermanfaat bagi manusia lainnya. Berbagi artikel yang baik dan bermanfaat

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama